Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila dengan Pendekatan Ilmiah

By | September 17, 2018

Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila dengan Pendekatan Ilmiah

Pendidikan merupakan fasilitas penting untuk menaikkan sumber energi manusia (SDM). Salah satu upaya dalam pendidikan untuk menaikkan sumber energi manusia adalah dengan belajar. Melalui pembelajaran siswa mengalami pergantian prilaku yang positif.

Mengajarkan Nilai-nilai Pancasila dengan Pendekatan Ilmiah

Menurut Susanto, pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik sehingga terjadi sistem memperoleh ilmu dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran, prilaku dan pembentukan sikap. Pengembangan pembelajaran untuk menaikkan pendidikan dimulai dari guru sebagai pendidik. Guru bertanggung jawab untuk mengembangkan kesibukan pembelajaran sehingga mampu menangani persoalan yang terlihat dalam kesibukan pembelajaran. Melalui pendidikan ini akan dihasilkan manusia Indonesia yang cocok dengan tujuan Sistem Pendidikan Nasional dalam UU No. 20 tahun 2003 yakni jadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan jadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tujuan Sistem Pendidikan Nasional yang pertama terlampau penting untuk mendidik siswa sehingga jadi manusia yang beriman dan bertakwa.

Pancasila adalah anggota dari empat pilar kebangsaan yang mempunyai manfaat sebagai falsafah pandangan hidup dan dasar negara. Pancasila sebagai dasar negara tentunya terlampau penting untuk dipelajari oleh siswa. Melihat dan juga menimbang pentingnya Pancasila maka terdapat mata pelajaran PPKn yang jadi wadah bagi materi Pancasila. PPKn terhadap kurikulum 2013 merupakan anggota dari tematik dan terintegrasi terhadap tiap tiap mata pelajaran lain terlebih terhadap KI satu yang mempunyai muatan religi dan mengenai dengan sila pertama Pancasila. Pembelajaran PPKn tentang nilai-nilai Pancasila sila pertama mampu jadi tidak benar satu cara untuk mendidik siswa jadi manusia yang beriman dan bertakwa dan juga mampu mengembangkan potensi baik sikap, ilmu maupun keterampilan siswa.

Penyampaian pembelajaran PPKn mampu memanfaatkan pendekatan saintifik. Musfiqon dan Nurdyansyah menyebutkan pendekatan saintifik merupakan tidak benar satu solusi untuk menangani kasus di dalam pembelajaran terlebih untuk menaikkan keaktifan siswa. Tahun ajar 2017-2018 mewajibkan sekolah untuk menerapkan kurikulum 2013 terlebih untuk kelas 1, 2, 4, dan 5. Kurikulum 2013 memanfaatkan pendekatan saintifik, dimana pendekatan saintifik adalah pendekatan dengan memanfaatkan metode ilmiah yang merujuk terhadap teknik-teknik investigasi atas suatu atau sebagian fenomena atau gejala, memperoleh ilmu baru, atau mengoreksi dan memadukan ilmu sebelumnya.

Teknik investigasi terhadap pendekatan saintifik mampu digunakan sebagai solusi untuk menyebabkan siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik mempunyai sintak dan mempunyai lima cara yaitu: (1) mengamati, (2) menanya, (3) menalar, (4) mencoba, dan (5) mengkomunikasikan. Berdasarkan serangkaian sintak saintifik tersebut, siswa mampu studi lebih aktif. Siswa mampu bereksplorasi untuk menemukan ilmu baru berwujud perilaku-perilaku cocok Pancasila sila pertama yang tersedia di sekitarnya lewat kesibukan mengamati. Ketika siswa diberi kesempatan untuk mengamati maka siswa juga aktif menanyakan kala menemukan perihal baru yang tidak cukup dipahami.

Upaya untuk mengerti efektifitas pembelajaran nilai-nilai Pancasila sila pertama memanfaatkan pendekatan saintifik berbasis Lesson Study. Fernandez dan Yoshida menyebutkan bahwa Lesson Study berasal dari Jepang dan sudah ditunaikan sejak 100 tahun yang lalu. Istilah Lesson study dalam bahasa Jepang disebut jugyokenkyu. Menurut Syamsuri dan Ibrohim Lesson Study adalah tidak benar satu pelatihan dalam era jabatan yang dikenal dengan nama in-service training (INSET). Tujuan lazim INSET adalah membantu guru melakukan perbaikan mutu mengajar untuk menaikkan karir profesionalitasnya.

Lesson Study ditunaikan lewat tiga tahap yaitu: (1) plan (perencanaan), (2) do (pelaksanaan), dan (3) see (refleksi). Sebelum mengawali tahap plan, guru jenis ditentukan terlebih dahulu. Tahap plan (perencanaan) guru jenis beserta guru-guru lain menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mampu menaikkan aktifitas siswa kala belajar. Plan ditunaikan secara kolaboratif, semua guru saling berbagi gagasan untuk menyempurnakan RPP, tak hanya itu guru-guru juga menetapkan kala untuk pelaksanaan.

Tahap do (pelaksanaan) adalah kala dimana guru jenis menerapkan RPP yang sudah disepakati. Selama kesibukan pelaksanaan siswa adalah fokus pengamatan dari guru lain yang melakukan tindakan sebagai observer. Observer mengamati dengan berpedoman terhadap instrumen pengamatan yang sudah disepakati kala plan. Observer harus mengamati dengan objektif dan juga memastikan bahwa kehadirannya di dalam kelas tidak mengganggu atau pengaruhi konsentrasi siswa sepanjang belajar.

Tahap see (refleksi) ditunaikan untuk mengerti berlebihan dan juga kekurangan sepanjang pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Kegiatan see dipimpin oleh moderator dan hasil diskusi dicatat oleh notulis. Pada kesibukan refleksi guru jenis mengemukakan kesan dan juga kasus yang ditemui sepanjang pembelajaran. Observer menyampaiakan hasil pengamatan tentang beragam prilaku siswa sepanjang pembelajaran dan juga saran-saran untuk pembelajaran berikutnya. Berikut ini adalah siklus pembelajaran lesson study.

Berdasarkan penjelasan di atas pembelajaran nilai-nilai Pancasila sila mampu memanfaatkan pendekatan saintifik berbasis Lesson Study mampu menaikkan keaktifan siswa kala belajar. Siswa jadi aktif untuk berkesplorasi dan menemukan informasi-informasi penting lewat bisnis berdiri sendiri yang dibimbing oleh guru. Hasil temauan penulis yang menerapkan pendekatan ini dalam pembelajaran Pancasila yakni:

Siswa mampu menyebutkan umpama nilai-nilai Pancasila sila pertama yang tersedia di kehidupan sehari-hari,
Melalui pendekatan saintifik siswa lebih banyak coba dan menalar atau menghubungkan Info secara berdiri sendiri sehingga pembelajaran lebih berpusat terhadap siswa,
Siswa lebih percaya diri dan termotivasi lewat kesibukan menanya dan mengkomunikasikan sehingga pembelajaran jadi lebih bermakna,
Guru memperoleh pengalaman berarti tentang pembelajaran berbasis Lesson Study sebagai upaya untuk mengembangkan kompetensi.