Perlawanan Aceh 1873 – 1904

By | January 14, 2019

Perlawanan Aceh 1873 – 1904

Perlawanan Aceh 1873 - 1904

Perlawanan Aceh 1873 – 1904

 

Kerajaan Aceh memiliki

Kerajaan Aceh memiliki kedudukan yang sangat terkenal sebagai pusat perdagangan . Aceh banyak sekali menghasilkan lada , tambang serta hasil hutan , sehingga Belanda ingin menduduki kerajaaan Aceh serta menguasainya . orang-orang Aceh tetap ingin mempertahankan kedaulatannya walaupun Belanda ingin menguasai . Tahun 1871 , Aceh masih sebagai kerajaan yang merdeka tetapi mulai berubah dengan adanya Traktrat Sumatra ( yang ditandatangani Inggris dengan Belanda pada tanggal 2 November 1871 ) . Isi dari Traktrat Sumatra 1871 itu adalah pemberian kebebasan bagi Belanda untuk memperluas daerah kekuasaan di Sumatra , termasuk Aceh . Dengan demikian , Traktrat Sumatra 1871 merupakan ancaman untuk Aceh .

Karena itu Aceh berusaha untuk memperkuat diri , mengadakan hubungan dengan Turki , Konsul Italia , bahkan dengan Konsul Amerika Serikat di Singapura . Tindakan Aceh ini sangat mengkhawatirkan pihak Belanda karena Belanda tidak ingin adanya campur tangan dari luar . Belanda memberikan ultimatum, namun Aceh tidak menghiraukannya .

Pada tanggal 26 Maret 1873 , Belanda melakukan perang kepada Aceh . Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada Tahun 1873 hingga 1904 . Kesultanan Aceh menyerah pada Tahun 1904 , tetapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut . Pada tanggal 26 Maret1873 Belanda melakukan perang kepada Aceh , dan mulai menggunakan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen . Pada tanggal 8 April 1873 , Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler , dan Masjid Raya Baiturrahman dikuasainya .

Jendral Köhler

Jendral Köhler saat itu membawa 3.198 tentara . Sebanyak 168 di antaranya para perwira . Perang Aceh Pertama (1873 – 1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Jendral Köhler . Jendral Köhler dengan 3000 serdadunya akhirnya terbunuh , dimana Jendral Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April1873 . Sepuluh hari kemudian , perang terjadi di mana-mana perang yang paling besar saat merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman , yang dibantu oleh beberapa kelompok pasukan . Ada di Peukan Aceh , Lambhuk , Lampu’uk , Peukan Bada , sampai Lambada , Krueng Raya . Beberapa ribu orang juga berdatangan dari Teunom , Pidie , Peusangan , dan beberapa wilayah lainnya .

Pada Perang Aceh Kedua ( 1874-1880 )

Pada Perang Aceh Kedua ( 1874-1880 ) di bawah pimpinan Jendral Jan van Swieten , Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan Pada tanggal 26 Januari 1874 dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda Pada tanggal 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bagian dari Kerajaan Belanda . Ketika Sultan Machmud Syah wafat pada tanggal 26 Januari 1874 dan digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri .

Perang yang pertama dan Perang yang kedua adalah

Perang yang pertama dan Perang yang kedua adalah perang total dan frontal dimana pemerintah masih berjalan mapan , meskipun ibu kota negara berpindah – pindah ke Keumala , Dalam indrapuri dan tempat – tempat lain Perang ketiga (1881-1896), perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah . Dimana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904 . Dalamperang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama Panglima Polim dan Sultan . Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van der Dussen di Meulaboh ,Teuku Umar akhirnya gugur . Tetapi Cut Nyak Dien istri Teuku Umar kemudian tampil menjadi komandan perang gerilya . Perang keempat pada tahun ( 1896-1910 ) adalah perang gerilya kelompok dan perorangan dengan perlawanan , penyerbuan, penghadangan dan pembunuhan tanpa komando dari pusat pemerintahan Kesultanan

Sumber : https://www.dosenmatematika.co.id/